Langsung ke konten utama

Figur Pemimpin

Secara kebetulan dalam minggu-minggu ini beruntun fenomena mengenai kepemimpinan berputar di sekitar saya.  Hal pertama yang muncul adalah, lahirnya aturan baru mengenai proses pengangkatan dan pemberhentian pejabat dan pegawai Non PNS di perguruan-perguruan tinggi BLU.  Proses ini bisa dibilang cepat.  Dewan Pengawas PTN BLU mengawalinya bersama di sebuah forum pertemuan Dewan Pengawas se-Indonesia.  Dari forum pertemuan ini, mereka saling berbagi dan membuat kesepakatan terhadap masalah-masalah yang sedang terjadi tetapi untuk proses penyelesaiannya harus melalui ranah pemerintah pusat.  Maka, dibuatlah surat rekomendasi dibantu oleh beberapa tenaga dari PK BLU surat tersebut disusun dan ditujukan kepada DPR.  Kurang lebih pada bulan Januari 2016, kami kirimkan surat tersebut dan alhamdullilah mendapat respon yang cukup baik.

Setelah peraturan tentang pengangkatan dan pemberhentian pejabat dan pegawai Non PNS di lingkungan PTN BLU lalu beredarlah PMK mengenai remunerasi.  Yang saya sekilas mendengar bahasan mengenai isinya, aturan ini dibuat tanpa celah dan jelas implementasinya.  (Bagi saya pribadi, saya turut bersukacita mendengarnya.  Karena bagi saya yang awam ini peraturan dengan karakter yang 'jelas' ini menurut saya langka adanya.  Seringkali carut marutnya sebuah birokrasi terjadi karena peraturan yang seharusnya menjadi SOP berwarna 'abu-abu' sehingga menimbulkan celah  penyalahgunaan, multitafsir, dan semacamnya)

Dua case di atas, membuat saya teringat dengan sosok pemimpin nomor satu di negeri ini yaitu Pak Jokowi.  (Sejak beliau menjabat menjadi presiden, saya jarang dengan sangat perhatian melihat berita dan perkembangan negeri ini.  Bukannya apa, saya senang beliau menjabat.  Tetapi hati kecil saya terkadang 'trenyuh'  jika saja mengamati wajah beliau yang sedemikian cepat menyusut dan menua.  Bapak.... semoga sehat selalu, damai sejahtera menyertai bapak dan keluarga. Amin..) Back to case, dua peristiwa dalam satu minggu ini tentu ada peran pemimpin negeri kita ini, Pak Jokowi.  Bagaimana beliau mengatur, menata, mereformasi mental-mental tikus para pegawainya.  Menjadi peka atas kebutuhan rakyat dan mau menjadi solusi untuk permasalahan di negeri ini.  Dulu yang saya tahu tentang birokrasi negeri ini adalah bobrok dan mimpi!  Bobrok karena birokrasi seperti benang kusut, mimpi karena apa yang menjadi harapan kita menguap dan kita disilakan pulang dengan tangan kosong.  Lembaga-lembaga atau bagian-bagian yang seharusnya menjadi jalan keluar bagi permasalahan rakyat hanya segelintir yang mampu terbuka.  Singkat cerita,  bapak negara kita ini yang jauh ada di Jakarta sana akhirnya, dampaknya bisa saya rasakan di sini.  dan 'dampak' ini adalah fenomena sosial yang menurut saya TIDAK BIASA.

Peristiwa selanjutnya adalah kemenangan AREMA di Piala Bali Islan 2016.  Sebelum saya membahas ini, saya akan bahas dulu bagaimana Persib menang di Piala Presiden 2015.  Bapak Ridwan Kamil sebagai walikota Bandung menyikapi kemenangan ini dengan bijak.  Beliau melarang konvoi dan menghimbau agar supporter merayakan kemenangan dengan cara yang positif.  Polisi sebagai satuan keamanan, diminta untuk berjaga-jaga dan siap memproses bagi para pelanggar.  Jika tidak salah baca, Bapak Ridwan Kamil sempat juga mengeluarkan statement yang intinya: konvoi atau tidak ada sepakbola lagi seterusnya.  Kemudian, piala ajang sepakbola  yang lain bergulir dan mempertemukan dua tim biru-biru ini.  Then, Arema menang.  Dan saya nilai ini adalah KEKALAHAN Arema.  Saya malu, Arema menang.  Seharusnya juara dua saja cukup.  Arema menang, lalu taman-taman kota rusak.  Arema menang lalu konvoi dimana-mana dan kemacetan terjadi.  Siapa yang peduli keselamatan yang lain.  Siapa yang peduli, banyak ibu-ibu pulang kantor ingin segera bertemu anak-anaknya.  Atau ibu-ibu yang terjebak di jalan dan khawatir asi yang diperahnya akan rusak karena tidak segera masuk lemari pendingin.  Dan konyolnya lagi, siapa yang peduli keselamatan dua bocah di dalam mobil yang kebetulan ber-plat L.  Siapa peduli?? Kaca mobil pecah bisa diganti.  Toh uang bisa dicari.  Tetapi goncangan jiwa yang dialami si anak siapa yang akan mengganti? Siapa bisa menjamin si anak tidak akan trauma.  Dan saya bertanya, kemana pemimpin kota ini?  Mungkin sebagian akan menganggap saya berlebihan.  Lalu berkomentar bahwa menjadi wali kota itu tidak mudah.  Maka saya akan menjawab demikian.  Jika beliau tahu menjadi walikota itu tidak mudah (tanggungjawabnya) maka mengapa dulu memilih untuk memimpin.  Bagi saya pribadi, pemimpin harus siap dipuji juga siap dimaki.  Apa bedanya kita dengan Bandung?  Bandung juga kota wisata, tamannya cantik cantik, wisata alamnya juga indah-indah.  Toh kondisi alam Malang  dan Bandung tidak berbeda jauh.  Jika boleh dibilang Malang adalah 'Bandungnya Jawa Timur'.  Dua pemimpin di kota itu sama-sama manusia.  Sama-sama makan nasi.  Tetapi secara kualitas kepemimpinan.  Anda nilai saja sendiri :) Andai saja, kita bisa lebih bijak merespon kemenangan kemarin.  Saya pasti jauh lebih salut dengan kemenangan itu.

Dan peristiwa terakhir, yang lumayan bikin saya ngakak.  Sekaligus mules karena kasihan melihat bapak senior menahan hati.  SDM hampir selalu menjadi permasalahan pelik dimana-mana.  Karena mengurusi barang hidup bukan barang mati.  Kalau ada yang tak pas di hati siap-siap mendengar koar-koar keluhan karena kebutuhan perut tak bisa menunggu.  Walhasil... bekerjalah tim rahasia.  Membuat ramuan ini dan itu untuk sebuah sistem seleksi sekaligus penempatan para 'perwira' sesuai kapasitas dan kemampuannya.  Ah, sampai disini, jangan kita berharap yang manis-manis dulu.  Berharap saja semoga sistem ini tidak dikebiri dan akhirnya mandul tak bereproduksi.  Sampai tibalah ditemukan 'perwira-perwira' pilihan.  Dipasang dan diatur sedemikian rupa.  Lalu dibawa ke pucuk pimpinan tertinggi, dan terjadi negosiasi.  Kemudian, disuatu sore.  Berdiskusi kesana-kemari.  Yang pilihan sudah terpancang.  Dan terjadiah lelang 'sampah'.  Saya terbahak.  Bapak senior tertawa. Kecut. Selesai sudah.  Sistem yang baik.  Tim yang solid.  Peluru sudah melesat.  Lalu tumpul hanya jadi peluru karet.  Karena sampah tak jadi dibuang.  Dan layaknya bangunan yang berkesan mewah.  Lalu ketika sampai kita akhirnya hanya berkesah.  Oalah...  Tidak jadi seserius itu.  Tidak jadi ada shock terapi.  Yang terjadi selanjutnya adalah anomali :)


Sekian dan terimakasih.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penolong Sepadan (Curhat Seorang Istri)

Kejadian 2 : 18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Ayat ini saya dapatkan ketika saya ngeyel bertanya pada seorang saudara.  Ngeyel meminta jawaban, padahal saya feeling sebenernya beliaunya ini juga masih belajaran hehe... Mungkin beliaunya merasa tidak pede untuk memberi arahan karena masih merasa baru *sama2 baru di dunia pernikahan. Tapi saya waktu itu lagi kepo banget. Nget! Dan ngga tahu harus tanya kemana (lagi) karena perenungan sudah mentok. Dan hati semakin galau gundah gulana tak menentu *eaaaa... Tuhan begitu luar biasa menciptakan kita manusia, bumi, beserta isinya.  Tuhan bahkan telah memerintahkan kita, supaya kita beranakcucu, memenuhi bumi, dan menaklukannya (Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan bur...

Kembali ke fitrah :)

saya lupa ayatnya dimana.  (petunjuk untuk hidup bersama orang-orang yang baik, mungkin di Amsal banyak sekali petunjuk ini)  tetapi ini yang ingin saya bagi.  pertimbangkanlah baik-baik untuk memilih sesuatu yang murah atau bahkan gratis.  terkadang harga bayar yang harus kita tebus tidak sebanding dengan label murah atau gratisnya.  *ouch yang ini rasanya menohok sekali... ibarat bunga, yanga akhirnya mandiri dan berpindah pada pot yang baru.  namun rupanya, biji ilalang masih ada yang nyangkut dan 'sulit' untuk ditebas.  sehingga sesekali bunga layu dan ilalang yang nampak meninggi.  ini ngomongin apa sih ya? hehe... bijaksana yuk ketika menentukan sesuatu.  dalam artian, bukan cuma memandang nilai materi tetapi dampak moralnya juga.  pengalaman yang ada sekuat-kuatnya filter kita, seringkali kita pun akhirnya keok juga.  berhati-hatilah dengan siapa kita bergaul.  berhati-hati dengan siapa anak kita hidup bersama....

Utama

RELASI. ini perjalanan panjang untuk menceritakan arti sebuah relasi. dasar dari semua yang kita kerjakan adalah hubungan kita dengan Tuhan. berjalan sesuai dengan apa yang Tuhan mau bukan yang kita mau. keadaan galau atau bimbang biasanya berwal dari ketidaktauan kita harus melangkah kemana. karena kita tidak bertanya. atau mungkin kita sedang menjauh. sehingga suara penuntun yang mestinya utama hilang sayup dideru dunia. kalah dengan suara tuhan-tuhan baru versi kita. jadi jelas, apa yang menjadi dasar kita melangkah adalah hasil dari perbincangan kita dengan yang punya hidup. yang seringkali konyol dan selalu terjadi (saya menyebutnya klasik) adalah kita tahu ini hal utama. bahwa berbincang dengan Tuhan. berQ-time dengan Tuhan adalah pokok. tapi selalu kita menomor sekiankan. bahasa Jawanya 'nggampangke'. hal lucu tapi ironis. jadi, sejauh apa kita menjagai hubungan kita dengan yang punya hidup? ekstrimnya, kalau belum mampu sama sekali lalu bagaimana kita menjagai hubu...