Langsung ke konten utama

Kembali ke fitrah :)

saya lupa ayatnya dimana.  (petunjuk untuk hidup bersama orang-orang yang baik, mungkin di Amsal banyak sekali petunjuk ini)  tetapi ini yang ingin saya bagi.  pertimbangkanlah baik-baik untuk memilih sesuatu yang murah atau bahkan gratis.  terkadang harga bayar yang harus kita tebus tidak sebanding dengan label murah atau gratisnya.  *ouch yang ini rasanya menohok sekali...

ibarat bunga, yanga akhirnya mandiri dan berpindah pada pot yang baru.  namun rupanya, biji ilalang masih ada yang nyangkut dan 'sulit' untuk ditebas.  sehingga sesekali bunga layu dan ilalang yang nampak meninggi.  ini ngomongin apa sih ya?

hehe... bijaksana yuk ketika menentukan sesuatu.  dalam artian, bukan cuma memandang nilai materi tetapi dampak moralnya juga.  pengalaman yang ada sekuat-kuatnya filter kita, seringkali kita pun akhirnya keok juga.  berhati-hatilah dengan siapa kita bergaul.  berhati-hati dengan siapa anak kita hidup bersama.  (kalau bisa memilih, bener-bener filter lingkungan yang sehat dan positif untuk anak2 kita)  sebab apapun bisa mengkontaminasi (bad habbit misalnya).  mungkin dengan penyelesaian berpindah dan memulai yg baru akan menjadi solusi yang bagus.  tetapi kalau infeksi itu ada di kita dan serasa kita nyaman dengan penyakit ini. ah... ini justru akan menjadi pertarungan yang panjang :)

saya sepakat dengan sebuah postingan yang mengatakan hiduplah dengan orang yang nyambung, bukan yang nyaman.  karena nyaman bisa dibuat.  tetapi koneksi? koneksi mengatakan banyak hal.  bisa tentang selera, chemistry, prinsip hidup.  tidak bisa dibangun dalam hitungan menit.  dan kalaupun seklai ngga nyambung akan sulit sekali dicari sambungannya.

intinya, sekali addict dengan sesuatu yang merugikan, kita harus bayar harga lebih buat kembali ke standar awal kita.  mungkin ini kenapa ada bulan puasa. ada bulan ramadhan. ada hari kemenangan.

semoga, bulan puasa ini kita bisa kembali ke fitrah kita.  menjadi manusia yang suci, dengan standar hidup benar yang lebih baik daripada hari kemarin.  semoga kita bisa move on dari kebiasaan-kebiasaan yang buruk dan benar-benar memenangkan hidup yang sehat secara iman.

*saya tulis, untuk mengakui betapa jengah saya dengan diri saya sendiri. yang tak kunjung sembuh untuk menjadi lebih baik. yang masih berperang dengan sesuatu yang saya juga benci.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Terbaik

Kemarin sore, entah mengapa tiba-tiba hati saya menjadi bimbang. Memandangi si kecil yang sudah pulas. Merenungi perkerjaan saya sehari-hari. Rutinitas d kantor. Dan rutinitasnya di rumah. Saya tidak menghakimi bahwa wanita karier adalah yang terbaik. Pun begitu dengan ibu rumah tangga. Saya rasa setiap orang berhak memilih dan menyandang predikatnya masing-masing. Sama seperti kisah klasik yang sering terjadi. Mungkin diantara ibu rumah tangga ada yg rindu bekerja. Dan ibu pekerja seperti saya merindukan rumah. Seolah kami berhadap-hadapan dan saling memandang halaman muka rumah seberang yang tampak indah rumputnya. Naluri saya sebagai seorang ibu terkadang menuntut lebih agar selalu disisi si kecil. Harusnya saya selalu berada di sisinya menikmati dan mendampingi masa pertumbuhannya. Bukannya malah orang lain yang bukan siapa-siapa yang justru ada di sisinya. Atau kadang saya sangat merindukannya seusai jam kantor dan justru bingung harus melakukan apa untuk menumpaskan rasa rindu...

Menikah itu... Menyebalkan!

Menikah itu menyebalkan. Banyak hal menjadi berubah saat kamu menikah. Minimal data di KTP dari belum menikah menjadi kawin.  Dengan menikah kita akan mendapat tunjangan suami/istri/anak (bagi perusahaan yang menyediakan, hahaha...) Dan hal penting yang berubah adalah kamu tidak lagi hidup sendiri. Bisa berdua atau mungkin berjamaah dengan yang lain. Menikah membuat mu terikat satu sama lain.  Apalagi kalau kalian punya bebi alias bayi, jadi artinya yang umurannya masi kuecil intik intiiiik.  Apa2 jadi dipikirkan demi kepentingan semua.  Hobi nongkrong harus milih tempat yang safe dari asap rokok.  Mau pergi ujan2 harus naik mobil (kalo bisa, malahan kalo bisa ngga usa pergi deh).  Hidup serumah dengan orang yang sama entah sampai kapan, menghadapi perbedaan yang baru saja keliatan setelah menikah, berdamai dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang menjengkelkan.  Misal taruh baju yang masi mau dipakai sembarangan, stay on HP everytime, bermalas-malasa...