Langsung ke konten utama

Penolong Sepadan (Curhat Seorang Istri)

Kejadian 2 : 18
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Ayat ini saya dapatkan ketika saya ngeyel bertanya pada seorang saudara.  Ngeyel meminta jawaban, padahal saya feeling sebenernya beliaunya ini juga masih belajaran hehe... Mungkin beliaunya merasa tidak pede untuk memberi arahan karena masih merasa baru *sama2 baru di dunia pernikahan. Tapi saya waktu itu lagi kepo banget. Nget! Dan ngga tahu harus tanya kemana (lagi) karena perenungan sudah mentok. Dan hati semakin galau gundah gulana tak menentu *eaaaa...

Tuhan begitu luar biasa menciptakan kita manusia, bumi, beserta isinya.  Tuhan bahkan telah memerintahkan kita, supaya kita beranakcucu, memenuhi bumi, dan menaklukannya (Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."Kejadian 1 : 28) Dan diantara sekian banyak ciptaanNya ternyata masih ada hal yang terasa kurang, saat Allah melihat Adam berinteraksi dengan semua ciptaanNya.  Lalu diceritakan pada Kejadian 2 : 18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."  Maka terciptalah Hawa.

Merujuk dari ayat ini, saya belajar secara mendalam apa arti penolong yang sepadan.  Setiap kita dilahirkan dengan talenta dan kekurangan masing-masing.  Bagi kita yang memiliki kapasitas besar, jangan sombong dulu.  Anda diciptakan (dipercayakan) dengan kapasitas besar karena ada saudara-saudaramu yang membutuhkan kapasitasmu.  Artinya setiap pribadi yang dipercayakan hal besar, memiliki tanggungjawab yang besar pula.  Maka, rasanya tak pantas bagi kita yang merasa memiliki kapasitas besar justru menggunakan kapasitas tsb utk gagah-gagahan.  

Lalu apa hubungannya dengan penolong yang sepadan? 

Apabila ada kapasitas, ada pula kelemahan atau kekurangan.  Ada plus ada minus, dan bisa jadi dalam hal rumah tangga salah seorang dipercayakan hal besar di salah satu sisi dan seorang yang lain dipercayakan talenta berbeda di sisi yang lain.  Saya pernah berpikir mengapa seseorang selalu kembali pada kesalahan yang sama.  Kalaupun bukan kesalahan, setiap orang termasuk saya selalu memiliki ritme kehidupan yang hampir mirip. Misalkan seperti saya, yang menurut hasil pengamatan saya ketika saya dikembalikan pada topik yang sama (berulangkali) sampai rasanya lelah, sebenarnya Tuhan sedang melatih saya tentang hal tsb.  Tetapi kelemahan saya adalah saya selalu berontak dan menolak. Lalu memikirkan dengan logika, sudah panik mencari seribu cara.  Padahal jawaban pertanyaan kasus tsb hanyalah cukup duduk diam dan mengerjakannya dengan tekun.  Sampai Tuhan bicara: sudah waktuNya! Artinya saya dianggap lulus dan masuk pada level selanjutnya.  Dan ritme kehidupan seperti ini tidak bisa dipelajari dalam waktu satu atau dua tahun.  Ada perjalanan panjang yang harus dilewati untuk bisa menarik garis merah hasil dari proses pengamatan tsb.  Termasuk ketika kita belajar hidup bareng, mungkin dengan orang tua, saudara, atau pasangan.  Mungkin anda pernah merasa berulangkali dihadapkan pada permasalahan dimana anda menjadi solusi tetapi selalu berhenti pada anda. Artinya suatu kali permasalahan tsb kembali lagi terjadi, dan tidak ada hal yang bisa dilakukan selain anda yang harus turun tangan mengerjakannya.  Seolah-olah ini adalah takdir yang tidak bisa ditolak.  Kenyataan yang saya pelajari, memang sepertinya itu adalah berkat.  Sebab mengapa itu bisa terjadi (sampai berulangkali) dan selalu anda yang sepertinya menjadi sasaran.  Kenapa saya bilang berkat? Sebab Tuhan sedang memberi kita kesempatan mengasah diri.  Melatih keterampilan kita untuk sesuatu hal menurut hikmatNya.  Bisa jadi itu untuk melatih kita mengatasi masalah dengan semakin baik, atau melatih kesabaran kita, atau bisa jadi mengajari kita untuk banyak duduk diam mendengar apa yang Tuhan mau sampaikan.

Inti dari penjabaran yang panjang kali lebar ini adalah saat anda berada pada situasi yang sama yang pernah anda alami sebelumnya dengan orang yang sama, berbesarhatilah.  Mungkin Tuhan punya tujuan mulia dengan hidup saudara dan saya.  Sejujurnya pernikahan itu memang tidak seindah seperti serial ftv atau serial perjodohan seperti seri korea dimana artis cantik ditemukan dengan artis ganteng. Mereka membuat foto prewed, menikah dg mengundang teman dekat, tinggal di rumah bagus.  Kalau jaman saya kecil ini mainan ibuk-ibukan.  Bukaaan.  Menikah itu tidak semanis itu.  Dan entah apa karena tayangan saat ini lebih pintar mengemas yang manis2 sehingga value dari arti kata menikah itu sepertinya cuman INDAH. cukup.  Menikah itu ibarat sekolah adalah sekolah yang paling berat.  Sebab kita tidak hanya hidup bersama, tetapi dituntut untuk lebih rajin mengasah diri.  Berproses bersama dengan orang yang sama selama hidup kita.

Saat kita sudah memutuskan menjadi pasangan yang sepadan, semoga kita selalu diberi hikmat untuk selalu berpikir bijaksana, menjadi dewasa.  Pandai menimbang dan memutuskan.  Saya ingat pernah mendapat pesan bahwa anak perempuan lebih lekas matang dan dewasa ketimbang laki-laki. Dan YA. Saya mengamininya.  Menjadi istri dari seseorang yang tidak berbeda jauh umurnya, bisa menjadi salah satu pertimbangan kita sebagai wanita harus lebih cermat dalam bertindak dan memutuskan. Harus siap berdiri di belakang suami saat ia (mungkin) sedang berpikir harus berjalan kemana.. Ah, para wanita... ketahuilah laki-laki (mungkin) memang selamanya adalah anak2.  Saat kita sudah tahu gambar diri kita harus bagaimana dan mau menjadi apa, mungkin laki-laki sedang sibuk dengan dunianya. Dan itu wajar.

Maka mengapa Tuhan menjadikan kita sebagai penolong yang sepadan, karena disanalah memang tempat kita saat ini.  Jangan pernah lelah untuk selalu menjadi solusi bagi kaum pria, jangan pernah lelah untuk menjadi jalan pulang, seorang wanita diciptakan untuk memiliki kebesaran hati dan lautan kasih bagi keluarganya.

Menjadi penolong yang sepadan, bisa jadi bukan berarti kita agresive untuk selalu berada di garda depan.  Menjadi penolong sepadan adalah saat kita dengan kebesaran hati kita mampu membuat kaum laki-laki merasa nyaman walau ia sedang terluka atau tertekan. Menjadi jalan keluar, bukan justru batu sandungan saat ia membutuhkan solusi.  Menjadi penolong yang sepadan itu adalah tugas mulia seorang wanita walaupun untuk bisa bermain cantik menjadi sepadan kita harus terus belajar, mau ditegur, mau memenuhi hati dengan kasih bukan sakit hati.  

Saat menjadi penolong sepadan pastikan dengan benar, bahwa kita memang benar2 menolong, yang ditolong benar2 merasa tertolong bukan justru ngriwuki pandangan atau menjadi sandungan.  Kalaupun saat ini ada hal yang (masih) sama yang berulang terjadi, nikmatilah. Mungkin pasangan kita sedang diproses (dilayakkan utk menjadi imam bagi keluarga kita) dan (bisa jadi) hal yang bisa kita lakukan hanya cukup berdiri di sisinya. Besarkan hati, sambil terus bercakap dengan Tuhan. Semoga Tuhan selalu beserta kita. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali ke fitrah :)

saya lupa ayatnya dimana.  (petunjuk untuk hidup bersama orang-orang yang baik, mungkin di Amsal banyak sekali petunjuk ini)  tetapi ini yang ingin saya bagi.  pertimbangkanlah baik-baik untuk memilih sesuatu yang murah atau bahkan gratis.  terkadang harga bayar yang harus kita tebus tidak sebanding dengan label murah atau gratisnya.  *ouch yang ini rasanya menohok sekali... ibarat bunga, yanga akhirnya mandiri dan berpindah pada pot yang baru.  namun rupanya, biji ilalang masih ada yang nyangkut dan 'sulit' untuk ditebas.  sehingga sesekali bunga layu dan ilalang yang nampak meninggi.  ini ngomongin apa sih ya? hehe... bijaksana yuk ketika menentukan sesuatu.  dalam artian, bukan cuma memandang nilai materi tetapi dampak moralnya juga.  pengalaman yang ada sekuat-kuatnya filter kita, seringkali kita pun akhirnya keok juga.  berhati-hatilah dengan siapa kita bergaul.  berhati-hati dengan siapa anak kita hidup bersama....

Yang Terbaik

Kemarin sore, entah mengapa tiba-tiba hati saya menjadi bimbang. Memandangi si kecil yang sudah pulas. Merenungi perkerjaan saya sehari-hari. Rutinitas d kantor. Dan rutinitasnya di rumah. Saya tidak menghakimi bahwa wanita karier adalah yang terbaik. Pun begitu dengan ibu rumah tangga. Saya rasa setiap orang berhak memilih dan menyandang predikatnya masing-masing. Sama seperti kisah klasik yang sering terjadi. Mungkin diantara ibu rumah tangga ada yg rindu bekerja. Dan ibu pekerja seperti saya merindukan rumah. Seolah kami berhadap-hadapan dan saling memandang halaman muka rumah seberang yang tampak indah rumputnya. Naluri saya sebagai seorang ibu terkadang menuntut lebih agar selalu disisi si kecil. Harusnya saya selalu berada di sisinya menikmati dan mendampingi masa pertumbuhannya. Bukannya malah orang lain yang bukan siapa-siapa yang justru ada di sisinya. Atau kadang saya sangat merindukannya seusai jam kantor dan justru bingung harus melakukan apa untuk menumpaskan rasa rindu...

Menikah itu... Menyebalkan!

Menikah itu menyebalkan. Banyak hal menjadi berubah saat kamu menikah. Minimal data di KTP dari belum menikah menjadi kawin.  Dengan menikah kita akan mendapat tunjangan suami/istri/anak (bagi perusahaan yang menyediakan, hahaha...) Dan hal penting yang berubah adalah kamu tidak lagi hidup sendiri. Bisa berdua atau mungkin berjamaah dengan yang lain. Menikah membuat mu terikat satu sama lain.  Apalagi kalau kalian punya bebi alias bayi, jadi artinya yang umurannya masi kuecil intik intiiiik.  Apa2 jadi dipikirkan demi kepentingan semua.  Hobi nongkrong harus milih tempat yang safe dari asap rokok.  Mau pergi ujan2 harus naik mobil (kalo bisa, malahan kalo bisa ngga usa pergi deh).  Hidup serumah dengan orang yang sama entah sampai kapan, menghadapi perbedaan yang baru saja keliatan setelah menikah, berdamai dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang menjengkelkan.  Misal taruh baju yang masi mau dipakai sembarangan, stay on HP everytime, bermalas-malasa...