Langsung ke konten utama

Buntalan Cinta yang Abadi

Belum pernah ada,
kasih di dunia,
sanggup menerima diriku apa adanya,
selain kasihMu Yesus.
 
tak kan ada lagi,
kasih s'perti ini,
sanggup mengubahkan hidupku menjadi baru,
selain kasihMu Yesus.

Kau kukagumi dalam hati,
kasihMu tiada duanya,
sampai kini kuakui,
kasihMu tiada duanya.

Aku memilih untuk menikmatinya dalam sibukku.  Sambil kumainkan tangan dan air dalam gemericik kebisingan dapur.  Begitu ramai orang di luar, sebagian berjalan lalu lalang, sebagian bertukar cerita melepas rindu, sebagian berdoa sambil memandangimu.  Tidak ada kasih yang seindah dan sehangat ini....

Perjalanan kami dimulai ketika komitmen untuk saling memiliki dibuat dalam kesepakatan tak berbunyi.  Dan semakin kuat saat kami saling mengungkapkan satu sama lain. Lalu, engkau hadir dan menyambutku seperti cucumu sendiri.  Tidak ada yang lebih indah daripada penerimaan dan kepedulian.  Aku perantau tanpa sanak saudara.  Dalam gemblengan kemandirian dan keterbatasan asupan materi.  Tanganmu yang selalu setia menerimaku saat aku sakit dan setia memperhatikanku saat barangku tertinggal atau ada hal yang terlewat.  Seringkali engkau diburu rindu saat deadline kami menumpuk.  Dan desakan kecil seperti pisang goreng buatanmu atau sekadar camilan, sebuah umpan manis untuk menarik kami kembali ke pelukanmu.  Tidak ada hal yang lebih manis daripada rentengan pertanyaanmu, atau tatapanmu yang selalu mengawasi kami dari jauh, atau sisipan-sisipan lembaran uangmu yang kau bilang tak seberapa tetapi sangat berarti bagi kami, lalu juga dengan segala waktu dan usahamu menanti anak cucu yang belum pulang.  Dengan terantuk-antuk engkau menahan mata sambil menikmati acar TV yang entah mungkin hanya sekadar selingan atau secuil hiburan, dan betapa luarbiasanya saat banjir datang, tangan rapuhmu dengan lincah memainkan kain pel mengeringkan  bagian ini dan itu.  Ah... seandainya aku tahu, dibalik semua kesibukanmu sebenarnya ada kesepian menjelang anak-anakmu beranjak menua dan cucumu perlahan telah sibuk dengan deretan agenda hariannya.  Aku hanya sedikit menyesal tidak sempat memelukmu erat hanya sekadar mengatakan: eyang, aku sangat mengasihimu.

Lalu semua puzzle itu terpampang jelas sekarang.  Mengapa akhir tahun engkau meminta cetak gambar dirimu lengkap dengan ukurannya.  Dan ibuku yang sempat singgah untuk sekadar mampir, engkau sampaikan kekhawatiranmu bahwa natal ini mungkin tak dapat engkau lalui.  Lalu untuk apa bungkusan handuk, sabun mandi lux ungu itu, sepotong kebaya ayu berwarna ungu, jarik yang sudah kau wiru.  Aku terduduk kelu.  Sudah saatnya..

Hidupmu bagaikan buntalan cinta yang selalu terisi penuh dan mengucur tiada habisnya untuk kami di sekitarmu.  Waktu-waktu yang telah kau lalui, semakin memantapkan langkahmu untuk tetap peduli, penuh kasih, dan konsisten mengikuti Dia yang telah menggendongmu saat ini.  Benih itu telah meluncur ke udara bagaikan kembang api, dan telah tertanam di banyak hati.  Hidupmu begitu indah, ramai dengan kecerewetan ataupun sekadar ungkapan kekesalan kepada kami, dan kini benih-benih cinta yang berasal dari buntalan itu akan selalu kami bawa dalam ingatan manis kami.

Teruntuk eyangku sayang, yang kepadanya Tuhan telah sediakan tempat terbaik.  Terimakasih telah menjadi rumah keduaku.  Terimakasih telah menjadi ibu dan tempat bersandarku.  Penerimaan dan kasihmu yang luar biasa, menyemangatiku untuk selalu hidup melayani dengan hati, bukan hanya sekadar memberi, tetapi juga mampu berdiri. Tuhan, kepadaMu ku serahkan buntalan cintaku yang abadi.  Terimakasih telah mengijinkanku mengenalnya melewati hari-hariku bersamanya.  Eyangku sayang :*

*sebuah catatan kecil dari seorang cucu menantu, seseorang yang awalnya bukan siapa-siapa tetapi merasakan kehilangan yang teramat sangat sebab sebagian hatinya telah terpaut kuat karena kasihnya yang abadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali ke fitrah :)

saya lupa ayatnya dimana.  (petunjuk untuk hidup bersama orang-orang yang baik, mungkin di Amsal banyak sekali petunjuk ini)  tetapi ini yang ingin saya bagi.  pertimbangkanlah baik-baik untuk memilih sesuatu yang murah atau bahkan gratis.  terkadang harga bayar yang harus kita tebus tidak sebanding dengan label murah atau gratisnya.  *ouch yang ini rasanya menohok sekali... ibarat bunga, yanga akhirnya mandiri dan berpindah pada pot yang baru.  namun rupanya, biji ilalang masih ada yang nyangkut dan 'sulit' untuk ditebas.  sehingga sesekali bunga layu dan ilalang yang nampak meninggi.  ini ngomongin apa sih ya? hehe... bijaksana yuk ketika menentukan sesuatu.  dalam artian, bukan cuma memandang nilai materi tetapi dampak moralnya juga.  pengalaman yang ada sekuat-kuatnya filter kita, seringkali kita pun akhirnya keok juga.  berhati-hatilah dengan siapa kita bergaul.  berhati-hati dengan siapa anak kita hidup bersama....

Yang Terbaik

Kemarin sore, entah mengapa tiba-tiba hati saya menjadi bimbang. Memandangi si kecil yang sudah pulas. Merenungi perkerjaan saya sehari-hari. Rutinitas d kantor. Dan rutinitasnya di rumah. Saya tidak menghakimi bahwa wanita karier adalah yang terbaik. Pun begitu dengan ibu rumah tangga. Saya rasa setiap orang berhak memilih dan menyandang predikatnya masing-masing. Sama seperti kisah klasik yang sering terjadi. Mungkin diantara ibu rumah tangga ada yg rindu bekerja. Dan ibu pekerja seperti saya merindukan rumah. Seolah kami berhadap-hadapan dan saling memandang halaman muka rumah seberang yang tampak indah rumputnya. Naluri saya sebagai seorang ibu terkadang menuntut lebih agar selalu disisi si kecil. Harusnya saya selalu berada di sisinya menikmati dan mendampingi masa pertumbuhannya. Bukannya malah orang lain yang bukan siapa-siapa yang justru ada di sisinya. Atau kadang saya sangat merindukannya seusai jam kantor dan justru bingung harus melakukan apa untuk menumpaskan rasa rindu...

Menikah itu... Menyebalkan!

Menikah itu menyebalkan. Banyak hal menjadi berubah saat kamu menikah. Minimal data di KTP dari belum menikah menjadi kawin.  Dengan menikah kita akan mendapat tunjangan suami/istri/anak (bagi perusahaan yang menyediakan, hahaha...) Dan hal penting yang berubah adalah kamu tidak lagi hidup sendiri. Bisa berdua atau mungkin berjamaah dengan yang lain. Menikah membuat mu terikat satu sama lain.  Apalagi kalau kalian punya bebi alias bayi, jadi artinya yang umurannya masi kuecil intik intiiiik.  Apa2 jadi dipikirkan demi kepentingan semua.  Hobi nongkrong harus milih tempat yang safe dari asap rokok.  Mau pergi ujan2 harus naik mobil (kalo bisa, malahan kalo bisa ngga usa pergi deh).  Hidup serumah dengan orang yang sama entah sampai kapan, menghadapi perbedaan yang baru saja keliatan setelah menikah, berdamai dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang menjengkelkan.  Misal taruh baju yang masi mau dipakai sembarangan, stay on HP everytime, bermalas-malasa...