Langsung ke konten utama

hubungan yang bertumbuh

Tahun 2008 aku mengakhiri perjalanan berkasih-kasih hehe...  menginjak tahun kedua masa kuliahku, hidupku mulai ku dedikasikan penuh untuk prestasi, keluarga, pelayanan di UKM rohani, dan pekerjaan.  Praktis tempat kos yang seharusnya menjadi tempat bermalas-malas, hanya ku singgahi saat malam tiba.  Aku harus bangun pagi-pagi, berangkat kuliah menyempatkan rapat dan koordinasi seperlunya lalu kerja.  Jualan kasur.  Itutuh... kasur yang ada pir nya. yang kalo dipake lonjak-lonjak kita bisa mentul-mentul di atasnya. Orang bilang itu namanya spring bed :)

Why?  Kenapa aku harus berkeras-keras begini...
well... mamaku orang yang keras.  beliau berharap betul aku mampu menjadi kakak yang dapat diharapkan oleh keluarga.  anak pertama niih ceritanya. tertekan? ah itu lagu lama... hehe... tapi kalo tidak begitu mana bisa aku lahir menjadi pribadi yang total dan perfeksionis (sangat) hihihi...

ini yang akhirnya menjadi pertimbangan berkasih-kasih tadi ga lagi jadi pilihan.  aku harus punya prioritas yang jelas untuk hidupku.  dan saat itu pula hubungan komunikasi kami sedikit memburuk.  ditambah pula aku yang tak sabaran, jadi karna tak melihat ada harapan yang baik aku putuskan untuk fokus ke hal lain yang lebih mungkin untuk ku gapai.  aku mulai belajar tegas di masa itu. FOKUS. FOKUS. FOKUS!

hingga pada akhirnya tahun 2008 akhir kami bertemu.  ngobrol karna harus jarkomin info dan jadian di awal 2009 :D enggak nyangka! hahaha... iyalah... aku juga ngga ada gambaran bakal jalan secepat itu.  kenapa? (lagi) ya karna aku nyaman.  kami sepikir. kami sejiwa. dan doa ku emmang aku sudah malas mengulang lembar baru jika memang orang ini bukan yang terakhir untuk ku. ceileee hahahaha...  ngrasa emejing aja waktu ketemu.  masa iya apa yang mo diomongin dari detik moment dan kata-katanya sama semuaaaa.. oemjiii... manis? iya doong.. tapi nggak sepenuhnya begitu ternyata... hahahahaha...

tahun pertama kami, hampir setiap dua hari sekali kami bertengkar. saling selisih paham.  ada saja yang menjadi bahannya.  dari duit cemban sampai karna masalah orang-orang masa lalunya.  dan memorinya yang canggih itu cukup merekam dg jelas sudah berapa kata pisah aku sampaikan. hehe... waktu itu masih idealis banget sih ya. terang-terangan saya bilang, kamu mau jalan sama saya? tapi saya nggak bisa jadiin kamu prioritas.  saya mau kuliah kerjaan dan pelayanan nomer satu.  saya orangnya keras, kalo uda mau satu itu ya harus itu.  saya bosenan.  kalo kamu ga tahan ga siap kamu boleh pertimbangin lagi niatmu. hahahaha sarkasme yaaa... tapi masa muda selalu menyimpan ceritanya.  singkat cerita dari tengkar dua hari menurun jadi seminggu dua kali terus jadi seminggu sekali lanjut dua minggu sekali turun lagi jadi sebulan sekali sampaaaiii akhirnya pertegkaran itu kami rindukan.. LHOH???

hehe... iya.. kami kalo uda lama jalan baik2 terus tiba2 jadi gak enakan nanti kalo sudah ada yang tenang satu nginget2 kapan terakhir marahan kami akhirnya cuman ketawa2.  secuil percakapannya begini: kamu tau kenapa kita marahan?  coba inget kapan terakhir kita marahan... kalo udah akhirnya ketawa2 aja.. permasalahan pun berlalu menguap begitu saja..

tulisan ini terpenggal entah berapa lama... dan ini batasnya. ketika waktu terus berjalan tak terasa tonggak kehidupan yang baru sudah dimulai...

hubungan ini terus bertumbuh seiring dengan proses Tuhan di dalam kami.  2009 awal dan ini sudah menjelang februari 2016 tidak terasa tujuh tahun.  ternyata hubungan lama tidak semenakutkan itu.  saya dulu sering membayangkan betapa bosan jika menjalin hubungan yang sekian lama dan paaanjaaang.  tapi ternyata ada alasan mengapa manusia berkomitmen dan terus berlanjut.  ternyata hubungan itu tidak sekadar nonton bareng, ngopi bareng, dolan bareng, ada yang lebih penting dari semua ornamen itu. ada rasa saling membutuhkan yang tidak bisa digantikan oleh siapapun.  ada perasaan nyaman yang sulit digambarkan.  ini mungkin awalnya mengapa ada sebutan belahan jiwa.  dan obsesiku untuk menjalin sebuah pernikahan yang sejati Tuhan menjawabnya melalui proses kami.

Pernikahan sejati? ya. pernikahan sejati.  pernikahan yang sungguh-sungguh mengenal siapa kami masing-masing.  layaknya membangun rumah, aku ingin membangunnya bersama.  memilih material jenis batu pondasinya, pencampurnya, cara pengerjaannya, bagaimana modelnya.  intinya kami ingin menjadi role model pasangan yang benar-benar saling mengenal dan mau saling bertumbuh memulai segalanya secara mandiri.  bahkan jauh sebelum menikah kami pun sempat membahas role parenting untuk anak kami kedepan.  idealis. mungkin.  tetapi bukankah setiap orang berhak memiliki mimpi mereka masing-masing.  biar saja, toh nanti di lapangan idealisme itu akan beradaptasi dengan praktek yang ada.

aku hanya tidak ingin pernikahan ini untuk orang tua kami, atau pernikahan ini pernikahan kekayaan dan jabatan seperti yang sering ditulis di roman-roman jamah dahulu.  ini  juga bukan pernikahan seperti yang ada di drama-drama korea atau sinetron Indonesia.  riil life need a riil dream :)

hingga akhirnya lahir si baby giant, alisia kirana. setelah di perut emak 9 bulan. dioyong kesana kemari. dibawa jalan-jalan ke danau toba, ke jakarta, ke bandung karena kerjaan. dan terakhir kami bertiga ke bali buat liburan.  dia lahir ke dunia sambil membawa seluruh pipi bakpaoku. hingga saat itupun Tuhan belum mengijinkan tempat bernaung kami selesai.

dan sekarang, hubungan ini mencapai level berikutnya.  semakin dekat dengan rasa ucapan "welcome to the jungle".  selamat datang di dunia nyata pernikahan.  banyak hal yang harus berproses terutama adalah adaptasi dengan member-member baru keluarga.  yang biasanya hanya say hai sekarang menjadi lebih dekat dan lebih tahu yang sesungguhnya.  kaget? sebentar saja sih.  menangis? iya.  wajarlah saya kan perempuan tulen.  biar dulu engga peka-peka amat sama suami jaman pacaran.  saya percaya teori bahwa hubungan komunikasi wanita dg wanita itu lebih kompleks.  komunitas peemka dulu menyebutnya 'masalah mbak-mbak'

lalu bagaimana sekarang? saya berkesimpulan, layaknya hubungan yang hidup dan bertumbuh.  perkenalan saya dengan suami saja dilewati dengan hujan amarah.  bisa jadi karena usia kami masih labil, kami masing-masing masih egois, atau kami masih berdiri pada titik budaya dan karakter yang bertolak belakang.  yang akhirnya Tuhan ijinkan untuk yang tinggi sedikit turun, yang rendah harus lebih naik lagi.  dan inilah kami berdua, berdiri pada titik yang sudah terstandarkan oleh proses.  begitu pula fase sekarang.  setidaknya pemahaman bahwa ini adalah proses hubungan yang bertumbuh, bisa membuat hati lebih lapang.  lebih bisa berdiam dan mengontrol diri.  lebih bisa berfikir rugi atau baiknya sebuah keputusan.  yang saya bilang rugi, bukan ngomong soal materi ya.  tapi lebih ke rugi karena amarah atau keputusan yang tergesa-gesa.  proses ini tidak bisa terelakan.  dan masing-masing kita saya percaya pasti akan mengalaminya. 

hubungan yang bertumbuh adalah tanda bahwa hubungan tersebut hidup.  mungkin diwarnai dengan tangis, mungkin sempat sakit hati, mungkin amarah sempat berkobar, tapi proses selalu ada ujungnya.  dinikmati saja.  yang baik diambil, yang jelek diperbaiki.  selamat berproses, tidak perlu menjadi orang lain untuk menyelesaikan ini. jangan lupa bahagia :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Utama

RELASI. ini perjalanan panjang untuk menceritakan arti sebuah relasi. dasar dari semua yang kita kerjakan adalah hubungan kita dengan Tuhan. berjalan sesuai dengan apa yang Tuhan mau bukan yang kita mau. keadaan galau atau bimbang biasanya berwal dari ketidaktauan kita harus melangkah kemana. karena kita tidak bertanya. atau mungkin kita sedang menjauh. sehingga suara penuntun yang mestinya utama hilang sayup dideru dunia. kalah dengan suara tuhan-tuhan baru versi kita. jadi jelas, apa yang menjadi dasar kita melangkah adalah hasil dari perbincangan kita dengan yang punya hidup. yang seringkali konyol dan selalu terjadi (saya menyebutnya klasik) adalah kita tahu ini hal utama. bahwa berbincang dengan Tuhan. berQ-time dengan Tuhan adalah pokok. tapi selalu kita menomor sekiankan. bahasa Jawanya 'nggampangke'. hal lucu tapi ironis. jadi, sejauh apa kita menjagai hubungan kita dengan yang punya hidup? ekstrimnya, kalau belum mampu sama sekali lalu bagaimana kita menjagai hubu...

Kembali ke fitrah :)

saya lupa ayatnya dimana.  (petunjuk untuk hidup bersama orang-orang yang baik, mungkin di Amsal banyak sekali petunjuk ini)  tetapi ini yang ingin saya bagi.  pertimbangkanlah baik-baik untuk memilih sesuatu yang murah atau bahkan gratis.  terkadang harga bayar yang harus kita tebus tidak sebanding dengan label murah atau gratisnya.  *ouch yang ini rasanya menohok sekali... ibarat bunga, yanga akhirnya mandiri dan berpindah pada pot yang baru.  namun rupanya, biji ilalang masih ada yang nyangkut dan 'sulit' untuk ditebas.  sehingga sesekali bunga layu dan ilalang yang nampak meninggi.  ini ngomongin apa sih ya? hehe... bijaksana yuk ketika menentukan sesuatu.  dalam artian, bukan cuma memandang nilai materi tetapi dampak moralnya juga.  pengalaman yang ada sekuat-kuatnya filter kita, seringkali kita pun akhirnya keok juga.  berhati-hatilah dengan siapa kita bergaul.  berhati-hati dengan siapa anak kita hidup bersama....

Menantu wanita idaman

Alkisah disebuah kota metropolitan,di sebuah desa yang tentram,di rumah mewah atau di rumah mungil. Entah dimana sajalah itu bermula. Hiduplah sebuah keluarga muda,didampingi oleh orang tuanya. Sang menantu wanita sangat soleh, santun dan baik hati. Ia penurut kepada imamnya dan berbakti kepada mertuanya. Mereka tidak pernah bertengkar ataupun berbeda pendapat. Sang menantu bisa menangani semua pekerjaan dg sempurna. Ibu dan bapa mertuanya sangat menyayanginya. Keluarga ini hidup bahagia selamanya. TAMAT *dibuat di dalam mimpi dengan banyak cita rasa hati. Yang jelas tanpa sianida. Lebih enak dinikmati dengan secangkir kopi. Hanya dibuat bagi yg bisa membaca  untuk memahaminya bukan menghakiminya. Selamat berproses ibu ibu muda,menjadi menantu sempurna :D