Langsung ke konten utama

Postingan

Figur Pemimpin

Secara kebetulan dalam minggu-minggu ini beruntun fenomena mengenai kepemimpinan berputar di sekitar saya.  Hal pertama yang muncul adalah, lahirnya aturan baru mengenai proses pengangkatan dan pemberhentian pejabat dan pegawai Non PNS di perguruan-perguruan tinggi BLU.  Proses ini bisa dibilang cepat.  Dewan Pengawas PTN BLU mengawalinya bersama di sebuah forum pertemuan Dewan Pengawas se-Indonesia.  Dari forum pertemuan ini, mereka saling berbagi dan membuat kesepakatan terhadap masalah-masalah yang sedang terjadi tetapi untuk proses penyelesaiannya harus melalui ranah pemerintah pusat.  Maka, dibuatlah surat rekomendasi dibantu oleh beberapa tenaga dari PK BLU surat tersebut disusun dan ditujukan kepada DPR.  Kurang lebih pada bulan Januari 2016, kami kirimkan surat tersebut dan alhamdullilah mendapat respon yang cukup baik. Setelah peraturan tentang pengangkatan dan pemberhentian pejabat dan pegawai Non PNS di lingkungan PTN BLU lalu beredarlah PMK m...

Menikah itu... Menyebalkan!

Menikah itu menyebalkan. Banyak hal menjadi berubah saat kamu menikah. Minimal data di KTP dari belum menikah menjadi kawin.  Dengan menikah kita akan mendapat tunjangan suami/istri/anak (bagi perusahaan yang menyediakan, hahaha...) Dan hal penting yang berubah adalah kamu tidak lagi hidup sendiri. Bisa berdua atau mungkin berjamaah dengan yang lain. Menikah membuat mu terikat satu sama lain.  Apalagi kalau kalian punya bebi alias bayi, jadi artinya yang umurannya masi kuecil intik intiiiik.  Apa2 jadi dipikirkan demi kepentingan semua.  Hobi nongkrong harus milih tempat yang safe dari asap rokok.  Mau pergi ujan2 harus naik mobil (kalo bisa, malahan kalo bisa ngga usa pergi deh).  Hidup serumah dengan orang yang sama entah sampai kapan, menghadapi perbedaan yang baru saja keliatan setelah menikah, berdamai dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang menjengkelkan.  Misal taruh baju yang masi mau dipakai sembarangan, stay on HP everytime, bermalas-malasa...

Yang Terbaik

Kemarin sore, entah mengapa tiba-tiba hati saya menjadi bimbang. Memandangi si kecil yang sudah pulas. Merenungi perkerjaan saya sehari-hari. Rutinitas d kantor. Dan rutinitasnya di rumah. Saya tidak menghakimi bahwa wanita karier adalah yang terbaik. Pun begitu dengan ibu rumah tangga. Saya rasa setiap orang berhak memilih dan menyandang predikatnya masing-masing. Sama seperti kisah klasik yang sering terjadi. Mungkin diantara ibu rumah tangga ada yg rindu bekerja. Dan ibu pekerja seperti saya merindukan rumah. Seolah kami berhadap-hadapan dan saling memandang halaman muka rumah seberang yang tampak indah rumputnya. Naluri saya sebagai seorang ibu terkadang menuntut lebih agar selalu disisi si kecil. Harusnya saya selalu berada di sisinya menikmati dan mendampingi masa pertumbuhannya. Bukannya malah orang lain yang bukan siapa-siapa yang justru ada di sisinya. Atau kadang saya sangat merindukannya seusai jam kantor dan justru bingung harus melakukan apa untuk menumpaskan rasa rindu...

Utama

RELASI. ini perjalanan panjang untuk menceritakan arti sebuah relasi. dasar dari semua yang kita kerjakan adalah hubungan kita dengan Tuhan. berjalan sesuai dengan apa yang Tuhan mau bukan yang kita mau. keadaan galau atau bimbang biasanya berwal dari ketidaktauan kita harus melangkah kemana. karena kita tidak bertanya. atau mungkin kita sedang menjauh. sehingga suara penuntun yang mestinya utama hilang sayup dideru dunia. kalah dengan suara tuhan-tuhan baru versi kita. jadi jelas, apa yang menjadi dasar kita melangkah adalah hasil dari perbincangan kita dengan yang punya hidup. yang seringkali konyol dan selalu terjadi (saya menyebutnya klasik) adalah kita tahu ini hal utama. bahwa berbincang dengan Tuhan. berQ-time dengan Tuhan adalah pokok. tapi selalu kita menomor sekiankan. bahasa Jawanya 'nggampangke'. hal lucu tapi ironis. jadi, sejauh apa kita menjagai hubungan kita dengan yang punya hidup? ekstrimnya, kalau belum mampu sama sekali lalu bagaimana kita menjagai hubu...

Untuk Wanita (Kuat)

Menjadi wanita itu adalah kehormatan Kesempatan untuk diciptakan menjadi wanita dan menghidupi panggilannya adalah berkat. Menjadi wanita itu harus kuat, tegar, bahasa kerennya SETRONG seperti model alis sekarang. Tebal dan besar.  Wanita harus bijak dan pandai move on. Menjadi wanita kuat tidak memandang status.  Mau lajang, single, jomblo, janda, istri, ibu, dsb.  Wanita jaman sekarang harus frontal. Frontal dengan tujuan hidup dan cita-cita masa depannya.  Wanita itu harus tahu, kebahagiaan adalah dirinya.  Tau harus menjadi apa, mengerjakan apa, berdiri di sisi mana, menghidupi panggilannya, memenuhi hidupnya dengan passion. Untuk wanita yang sedang menunggu, menghidupi hidup dengan passion setidaknya membuat hidup itu lebih berwarna.  Minimal walaupun ia tahu sedang menanti ia tahu harus menuju kemana.  Artinya wanita harus tahu tujuan hidupnya sekarang dan sambil percaya bahwa nanti tujuannya ini akan membawanya ke tempat yang diharapkan....

untuk peri kecilku yang beranjak dewasa

terinspirasi bacaan dan status dunia maya hari ini.  sedikit berbagi buat orang yang kukasihi. selamat menjelang menua... dunia bergerak demikian cepat. siapa sangka dulu kita suka bersepeda, menikmati angin dengan layang-layang, menjaring ikan di brantas, atau membawa timba ke tepi sawah.  tapi sekarang, anak-anak bermain dengan layar. belajar hitungan tak lagi dengan lidi atau biji jagung. dulu, mau berhitung saja kita diminta membawa ini dan itu. hasta karya juga susah payah dibuat. membeli manila atau kertas marmer. belum lagi lem dan gunting. tak jarang siswa menangis karena peralatannya ada yang hilang. takut si emak marah atau barang pinjaman dari saudara yang harus kembali.  masa-masa itu perlahan mungkin akan menghilang. sekarang setiap tugas harus dicari dengan internet. dicetak lalu dikliping. diwarna warni dengan tinta otomatis.  jaman sudah berbeda. tapi, jangan pernah berubah untuk peduli.  sabarlah mengantri sesuai dengan urutanmu.  buangl...

Engga punya bbm papa

Terjadilah suatu ketika. Wasap suami mengalami ke-error-an. Bernasib sama seperti hape mungilnya. Sehingga untuk urusan komunikasi yg biasanya mengandalkan wasap tsb harus beralih ke media lain. BBM. Tapi sengaja tidak kami pilih. Lebih tepatnya tidak saya pilih. Dulu kami punya semuanya. Lain. Wasap. Efbe. Instah. Bbm. Tapi semuanya betubah sejak negara api menyerang. Ribut gara2 status bbm. Setelah itu saya d delkon. Sebel?? Iyalah. Awalnya. Setelah itu biasa aja. Saya belajar bahwa dalam hubungan suami istri, saya tidak perlu harus tau semuanya. Note: dulu saya kepooo banget. Yang penting saya percaya dia. Kok bisa? Saya rasa, percaya itu muncul dari ketulusan kita menyayangi seseorang. Percaya itu juga dibangun dari lingkungan yang saling mendukung. Budaya atau kebiasaan untuk mengerti dan memahami posisi masing2. Saya belajar dari silang pendapat kami tentang status bbm: kita memang sudah bersuami istri tetapi kita tetap butuh privasi. Sekali lagi, media social. Bisa menjadi ala...